Menemukan Nilai-nilai Kehidupan dalam Cerpen beserta Unsur Intrinsiknya

Pembahasan kali ini adalah tentang contoh cerpen singkat, nilai-nilai kehidupan dalam cerpen, nilai-nilai dalam cerpen, unsur-unsur intrinsik cerpen, nilai moral dalam cerpen, cerpen beserta unsur intrinsiknya, nilai sosial dalam cerpen, cerpen pendidikan moral, cerpen nilai kehidupan, dan menemukan nilai-nilai dalam cerpen.

Untuk apa karya sastra dibuat? Untuk dinikmati? Hanya sekadar untuk dibaca? Tentu tidak. Karya sastra, baik itu cerpen, novel, puisi, atau drama, dibuat tidak hanya sekadar menjadi bacaan pelepas lelah dan pelipur lara semata.

Karya-karya itu dibuat sebagai cermin nilai dalam kehidupan. Ya, agar kita semua dapat mengambil hikmah dari setiap peristiwa atau kejadian yang ditawarkan oleh sebuah karya sastra.

Oleh karena itu, karya sastra yang baik, adalah karya sastra yang sarat akan nilainilai kehidupan, memiliki misi untuk disampaikan, tentu saja, dengan bahasa yang indah, dalam format yang berkias. Nah, kita pun seolah mendapatkan pelajaran moral yang berkesan setelah membaca karya sastra.

Begitu pula dalam sebuah cerpen, cerpen yang baik adalah cerpen yang sarat akan nilai-nilai yang baik dalam kehidupan. Nasihat yang bijak, tentu tidak aka terkesan menggurui jika disampaikan dalam bentuk cerita.

Contoh Cerpen Singkat


Tikus di Warung Soto
Karya Wiyantono

Masa kanak-kanak kami adalah keindahan. Aku dan Gunawan berkawan akrab. Keakraban yang sebenarnya bisa terganjal oleh perbedaan status sosial. Aku anak tukang kayu, sedangkan ayah Gunawan seorang camat. Namun kami tak pernah terusik perbedaan itu. Dan itulah yang kusebut sebagai keindahan.

Dongeng-dongeng yang dituturkan kakekku maupun eyangnya Gunawan menambah indah masa kanak-kanak kami. Kukatakan sebagai keindahan karena dongeng-dongeng itu menyadarkan kami betapa akan kesetaraan manusia dan keutuhan antar insan yang tidak perlu dikotak-kotak oleh perbedaan manusiawi.

Di suatu sore kakekku mendongeng tentang singa dan tikus. Seekor singa beristirahat dengan tenang di tengah hutan. Lalu datang seekor tikus mendekatinya. Tikus bermain riang dan mengusik ketenangan singa. Hampir saja singa menerkam tikus setelah keberangannya memuncak. 

Namun, niat itu urung. Singa sadar, sebagai binatang besar tidak pantas menyakiti binatang sekecil tikus. Dan tikus pun terus bermain loncat-loncatan dalam kegirangan, sementara singa bisa tidur mendengkur.

Di lain hari singa terperosok ke semak belukar. Rambutnya terjerat dan melilit pekat di semak. Ia meraung-raung untuk lepas dari jeratan, namun rambutnya tetap kuat melilit di semak. Raungannya di dengar tikus. 

Dan tikus pun langsung memberi pertolongan. Dengan kelancipan moncong dan ketajaman gigi kecilnya, tikus memotong rambut singa yang terjerat. Tak lama kemudian singa bisa bebas dari jeratan semak belukar, meski harus kehilangan bagian rambut indahnya.

Dongeng serupa juga dibeberkan eyangnya Gunawan di lain kesempatan. Bahkan disertai pesan moral untuk kami, “Jadi yang besar jangan somobong karena merasa kuat. Sebaliknya yang kecil jangan merasa rendah diri, karena yang kecil pun bisa menolong yang besar!”.

Keindahan masa kanak-kanak harus berakhir. Kami tumbuh mendekati remaja. Dan kami pun harus berpisah. Gunawan mengikuti ayahnya pindah ke kota. Di kota ia bukan lagi anak camat, tapi anak bupati. Sedangkan aku tetap bersama orangtuaku, ayahku tetap sebagai tukang kayu, dan simbok-ku tetap berjualan nasi pecel di pasar.

Sejak itu kami tak pernah bertemu. Setelah sunat, aku lebih banyak membantu simbok di pasar. Aku tak punya bakat menjadi tukang kayu. Harihariku lebih banyak tersita di pasar. Aku benar-benar menjadi “remaja pasar” yang belajar berdagang.

Sampai aku menikah, tak pernah bertemu Gunawan. Kabar tentang dia pun tak pernah kudengar. Mungkin dia sudahmenjadi priyayi di kota. Dan wajarlah bila melupakan aku.

Kelangsungan hidupku sangat tergantung pada warung soto yang kubuka di tepi jalan peninggalan Belanda. Warung kecil di atas tanah peninggalan Pak De Kromo, kakak ayahku. Tanah itu cukup luas namun tidak terurus. 

Aku tak perlu menyewa karena hanya memanfaatkan sebagian kecil dari keluasannya untuk warungku yang tak lebih lima kali lima meter. Aku bersyukur, karen awarung kecil bisa menghidupi keluargaku: istriku yang tidak bisa berdagang dan dua anakku yang duduk di sekolah dasar.

Ketenangan rumah tanggaku terusik. Tanah Pak De Kromo dijual kepada pengusaha dari kota. Aku pasti tergusur. Aku tak punya pandangan untuk memindah warung. Di pasar aku tak punya kios. Kanan kiri jalan sudah penuh rumah, toko dan warung. 

Usahaku benar-benar terancam. Rumah dan tanah warisan orangtuaku berada di tengah kampung, tak cocok untuk membuka warung.
***

“Kita akan bersama lagi seperti masa kanak-kanak”, ucap Gunawan kepadaku dalam pertemuan yang tak kuduga.

Kulukiskan pertemuan itu bukan hanya sebagai mukjizat. Betapa tidak? Lebih dari 40 tahun kami berpisah. Selama itu aku tak pernah membayangkan atau memimpikan bertemu Gunawan. Kukubur dalam-dalam kenangan indah di masa kanak-kanak.

“Kita tetap bersama dan sama,” ucap Gunawan lagi.

“Ah, kalian priyayi. Aku jelata.”

“Jangan begitu, Kasiman. Aku bukan priyayi. Aku orang swasta seperti kalian.”

Gunawan berkisah, usahanya di kota berkembang pesat. Sudah waktunya diperluas sampai ke daerah-daerah. Karena itu, ia membeli tanah Pak De Kromo untuk perluasan industri tekstilnya. Semula aku tak menduga pembeli tanah itu Gunawan. Sewaktu tawar-menawar dilakukan Pak Edi, yang baru belakangan ini kuketahui dia bawahan Gunawan.

“Kalian pasti menggusur warungku?”

“Ah tidak!” tandas Gunawan. “Kalian tetap boleh berjualan di situ. Tidak semua tanah untuk bangunan pabrik. Masih kusisakan beberapa meter untuk penjaja makanan.”

“Syukurlah, terima kasih.”

“Bersyukurlah saja. Tak usah berterima kasih. Kalian tentu masih ingat dongeng tikus dan singa,” Gunawan menepuk pundakku. Lalu kami tertawa riang.

Warungku bertambah ramai. Kalau biasanya Cuma menghabiskan dua ekor ayam untuk soto, berkembang menghabiskan lima ekor ayam setiap hari. Banyak buruh bangunan yang menggarap bangunan pabrik makan di warungku.

Setelah pabrik tekstil dioperasikan, warungku lebih ramai. Setiap hari aku memotong delapan ekor ayam. Banyak buruh pabrik yang makan siang di warungku. Ramai sekali. namun kehidupanku tak banyak berubah. Keuntungan menjual soto Cuma cukup untuk makan sehari-hari dan biaya sekolah kedua anakku. Dan aku memakluminya, karena ku tidak mengambil laba terlalu besar.

Semangkok soto kujual lima retus, sudah termasuk minumnya. Harga itu sangat cocok untuk buruh pabrik.

“Aku harus berterima kasih kepadamu, Man” kata Gunawan yang siang itu menyempatkan mampir di warungku.

“Lho, saya bisa bantu kalian apa?”

“Sebenarnya pabrik tekstilku ini belum mapan. Beban kreditnya masih berat. Karena itu, aku tak bisa menyejahterakan buruh, setidaknya sampai saat ini. Uang makan untuk mereka Cuma lima ratus. Untung ada warungmu, jika tidak usahaku pasti kacau...”

“Maksudmu?” selaku sebelum Gunawan melanjutkan ucapannya.

“Begini. Soto yang kalian jual sangat murah. Terjangkau para buruhku. Kalau tidak ada warungmu, apsti mereka makan di warung lain, di pasar atau terminal, yang harganya lebih mahal. Sekali makan mungkin seribu. 

Nah, dengan sotomu yang murah ini buruh-buruhku tetap bisa makan dengan uang makan yang kuberikan. Kalau warungmu tidak ada, tepatnya tidak ada warung murah, pasti para buruh terus menerus menuntut kenaikan uang makan. 

Dan aku sulit memenuhi. Tapi karena soto lima ratus inilah, mereka tidak menuntut kenaikan uang makan. Pendeknya, kalian sudah mencegah bahkan menyelamatkan usahaku dari tuntutan kenaikan uang makan. Begitu!”

Aku paham. “Bersyukurlah saja. Tak usah berterima kasih kepadaku. Kalian tentu ingat singa dan tikus.” kutepuk pundak Gunawan. Lalu kami tertawa riang.


***

Tahun ini tahun Tikus. Berbagai ramalan beredar. Kata para peramal, keadaan politik cukup seru. Ditandai kebangkitan kaum muda yang akan menggantikan para birokrat yang sudah tua. Tahun Tikus juga akan ditandai goyangnya kemapanan, tetapi tidak menjurus perpecahan. 

Sebab kegoyangan itu hanya masa peralihan pemegang birokrasi. Tepatnya, yang sudah tua sedikit gusar dan goyang karena belum begitu rela kekauasaannya jatuh ke tangan generasi penerus.

Aku juga dengar ramalan tentang bisnis. Kata para peramal, dunia usaha akan berkembang pesat. Tahun tikus merupakan tahun kesempatan. Tuntutan pasar kian besar dan beragam, maka tak mengherankan bila selama tahun tikus akan ada pertumbuhan industri yang mencengangkan. Mengejutkan. 

Walau tak pernah mempercayai ramalan, namun aku juga berpikir untuk berkembang di Tahun Tikus. Aku akan bikin kejutan berupa perluasan dua meter untuk warungku agar lebih banyak buruh yang makan siang.

Para buruh di warungku juga ramai membicarakan Tahun Tikus. Ada yang Cuma menjadi pendengar cerita kawannya yang sok tahu tentang Tahun Tikus. Ada yang mendebatnya. 

Dan ada pula yang melerai. “Buat apa berdebat tahun tikus. Tak ada hubungannya dengan burh. Uang makan kita tak akan berubah di tahun tikus, kelinci, singa atau tahun apa saja, sejauh bos masih pelit,” tutur si pelerai itu.

Namun seorang yang dilerai masih tetap membicarakan tahun Tikus. Ia berkata tandas. “Saya mendapat bocoran. Uang makan kita segera dinaikkan. Perluasan warungku pasti tak sia-sia. Kabarnya mendekati seribu!”

Aku tersenyum mendengarnya. Kalo uang makan naik, berarti harga soto bisa kunaikkan. Perluasan warungku pasti tak sia-sia. Untungku bisa sedikit bertambah.

Setelah para buruh berlalu dari warungku. datang seorang perempuan. Wajahnya cantik. Ia adalah suruhan Gunawan. “ Pak Gunawan minta dikirim dua mangkok soto . Dan Pak Kasiman sendiri yang ahrus mengantarnya ke ruang kerja Pak Gunawan,” tuturnya. 

Aku bergegas menyiapkan dua mangkok soto. Baru kali ini aku mendapatkan pesanan istimewa. Aku melangkah meninggalkan warung, memasuki lorong-lorong di pabrik, dan sampailah di ruang kerja Pak Gunawan.

“Kita makan siang di sini,” sambut Gunawan setelah kuhidangkan soto di meja kerjanya yang sudutnya penuh dengan tumpukan map dan surat.

Ada keanehan yang kurasakan. Terlebih setelah tangan gunawan mengangkat semangkok soto dan diberikan kepadaku. “Mari kita makan,” ucap Gunawan tanpa basa-basi.

Kusantap soto dengan penuh keheranan. Baru kali ini aku makan bersama bos di ruang kerja ber-AC dan lantainya dilapisi karpet tebal warna coklat. Tapi buat apa aku heran? Tiba-tiba benakku bercetus begitu. Toh Gunawan tetap kawanku. Kami biasa makan bersama di masa kecil

“Man,” ucap Gunawan lirih selesai makan.

“Ada apa, Gun?” tanyaku setelah kulihat Gunawan mendesah beberapa kali, keningnya berkerut dan tidak segera melanjutkan ucapannya.

“Bagaimana makan siang kita ini?” kulihat Gunawan bertanya agak gemetar di tempat duduknya.

“Nikmat. sotoku memang enak. Ada apa? Kurang asin?”

“Ya, nikmat. Tapi sayangnya makan siang kita ini juga merupakan perpisahan kita.”

“Lho? Kalian akan pindah? Lantas siapa yang akan mengurus pabrik di sini?”

“Bukan pindah. Aku tetap di sini, bahkan pabrik ini akan kuperluas.”

“Lalu?”

“Perluasan tentu membutuhkan tanah ....”

“Dan warungku pasti kalian gusur?” kucoba menebak arah penuturan Gunawan yang agak tersendat itu.

“Begitulah! Pabrik ini sudah waktunya diperluas. Sementara Pemda mendesak aku agar menata lingkungan pabrik. Kawasan ini harus bebas dari warung-warung kumuh.”

Deg! Jantungku seperti berhenti berdetak. Lidahku terasa kelu ketika hendak segera bertutur. Badanku gemetar di atas kursi. Dan pandanganku agak kabur ketika kutajamkan tatapan ke wajah Gunawan.

“Gun,” ucapku lirih. Bibirku seperti terjerat, bergetar pelan. “Kalian masih ingat dongeng...”

“Singa dan tikus itu? Masih!”

“Tepatnya ketika tikus itu berusaha memotong rambut singa yang terjerat di semak belukar?”

“Ya. Singa itu bebas berkat pertolongan tikus. Tapi baru sekarang aku mengetahui bahwa sebenarnya pertolongan tikus itu bukanlah yang terbaik.”

“Maksudmu?” Kukerutkan kening.

“Sebenarnya dongeng itu masih berlanjut. Singan itu kecewa sekali karena kehilangan rambutnya. Ia tak lagi gagah. Tak lagi berwibawa. Semua itu akibat ulah tikus yang menolongnya. Di lain hari, menemui tikus dengan kekecewaan yang memuncak. Singa menekan tikus aagr mengembalikan rambut indah itu.

Tapi tikus tak berdaya. Apa boleh buat? Kekecewaan singa terlampiaskan. Ia menerkam tikus itu.”

“Tapi ... tapi dongeng kita dulu tidak berlanjut begitu?”

“Dongeng boleh diubah dan diperpanjang sesuai perjalanan waktu dan zaman yang terus berubah,” tandas Gunawan.

“Ooo...!” Aku beranjak meninggalkan ruang kerja Gunawan. Ku biarkan dua mangkok tertinggal di meja singa itu. Mudah-mudahan menjadi barang antik koleksi pribadinya.

***
Pernah dimuat di republika


Menemukan Nilai-nilai Kehidupan dalam Cerpen

Nilai-nilai kehidupan yang terdapat dalam sebuah cerpen dapat dikategorikan menjadi beberapa jenis:

1. nilai agama : nilai-nilai yang didasarkan atas ajaran agama dan kitab suci;

2. nilai moral : nilai-nilai yang didasarkan pada nilai moral masyarakat setempat yang dianggap baik;

3. nilai sosial : nilai-nilai yang didasarkan pada adat istiadat keumuman masyarakat sosial setempat.

Nilai-nilai kehidupan dalam cerpen dikemukakan oleh pengarang dengan beragam cara, misalnya melalui pemerian atau pendeskripsian langsung, melalui tokoh, atau melalui dialog tokoh. Secara umu, nilai-nilai kehidupan dapat pula disampaikan secara tersurat dan tersirat.

Perhatikanlah contoh nilai-nilai tersurat dan tersirat dalam cerpen Tikus di Warung Soto berikut ini!
Menemukan Nilai-nilai Kehidupan dalam Cerpen beserta Unsur Intrinsiknya
Nilai Kehidupan Cerpen

Tersurat, pengarang menyampaikan secara langsung nilai-nilai tersebut dalam dialog atau pemerian. Tersirat, pengarang menyampaikan nilai-nilai tersebut secara tidak langsung, dapat melalui karakteristik tokoh, atau pesan tak tersurat lainnya.

0 Response to "Menemukan Nilai-nilai Kehidupan dalam Cerpen beserta Unsur Intrinsiknya"

Post a Comment